Studi Konseptual Kelayakan Transmisi HVDC Sumatera - Jawa

Studi konseptual kelayakan transmisi HVDC dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara garis besar mengenai kelayakan ekonomi dari pembangunan transmisi HVDC Sumatera Jawa yang dikaitkan dengan pembangunan PLTU batubara mulut tambang, beserta konstrain/resiko yang diperkirakan dapat timbul. Studi ini juga mengkaji model bisnis transmisi, khususnya menyangkut kepemilikan proyeknya. Data dau informasi yang dlperlukan untuk studi seluruhnya berupa data sekunder dan diambil dari studi-studi tendahulu yang telah dilakukan PLN

Transmisi HVDC Sumatera Jawa dinilai tayak secara ekonomi apabila Levelized Generation Cost (LGC) PLTU mine mouth di Sumatera + Levelized Transmissiont Cost. (LTC) transmbl HVDC Sumatera Jawa lebih rendah daripada LGC apabila PLTU dibangun di Jawa.

Kesimpulan dari Studi Kelayakan ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk kondisi base case: biaya listrik PLTU Sumatera + transmisi HVDC adalah 4,479 ¢U$/kWh. Ini lebih besar dibanding biaya listrik untuk PLTU di Jawa yang sekitar 4,335 ¢U$/kWh, sehingga membangun transmini HVDC yang menyalur listrik darl PLTU mulut tambang di Sumatera menjadi tidak feasible.

  2. Untuk kondisi harga batubara di Mulut Tambang lebih muah 20% dibandingkan dengan kondisl base PLTU Jawa, atau kondisi harga batubara di Mulut Tambang base case dibanding dengan PLTU Jawa teblh mahal 20%, maka membangun transmisi HVDC yang menyalurbn listrik dari PLTU mulut tambang dl Sumatera lebih feasible ditandingkan dengan membangun PLTU di Jawa.

  3. Kelayakan PLTU Sumatea + transmisi HVDC tidak hanya dibatasi oleh perhltungan biaya listrik dari capital cost dan operasional cost saja, tetapi terdapat dampak lain yang positif dari transmisi HVDC untuk menyalurkan listrik dari PLTU Sumatea, yaltu: tingkat polusi udara di Jawa tidak bertambah, arus hubung singkat tidak bertambah, ROW transmisi sistem dc lebih rendah dan terciptanya Interkoneksl Jawa~Sumatera..

  4. Dari hasil kajian resiko, resiko yang signfikan dan perlu diantisipasi adalah cost overrun, keslapan penyediaan dana, keterlambatan proyek dan survei & studi sea-bed.

  5. Rekomendart model bisnis yang dipilih adalah transmisi HVDC sepenuhnya dimiliki oleh PLN


Penulis : Ir Hanggoro, SE., DR Ir. Djoko Prasetyo, Ir. Satri Falanu No. Laporan : 05.LIT.2007Tanggal : 22Mei 2007 Jumlah Halaman : 77

KAJIAN RUANG BEBAS DAN JARAK BEBAS MINIMUM PADA SALURAN UDARA TEGANGAN TINGGI/TEGANGAN EKSTRA TINGGI ARUS SEARAH UNTUK PENYALURAN TENAGA LISTRIK

Hingga saat ini, PLN belum mempunyai transmisi/ saluran udara yang bertegangan searah (DC), sehingga perlu untuk mengkaji segala sesuatu yang berkaitan dengan karakteristik tegangan searah tersebut, khususnya kajian tentang ruang bebas dan jarak bebas minimum pada saluran udara HVDC untuk penyaluran tenaga listrik.

Dalam mengkaji masalah ini, pertama, perlu melakukan review terhadap aspek dasar yang digunakan untuk penetapan ruang bebas dan jarak bebas minimum pada saluran udara HVAC, yang sudah ada standarnya, baik menurut Peraturan Menteri, Standar Nasional Indonesia (SNI), maupun standar lain diluar negeri.

Aspek yang dimaksud, meliputi jarak aman terhadap tegangan normal, abnormal, switsing, lightning, hingga aspek medan elektromagnetik yang ditimbulkan oleh saluran udara tersebut. Kemudian dikaji aspek apa saja yang dominan terhadap HVDC dan nilai yang sesuai dengan aspek tersebut, dibandingkan dengan HVAC.

Hasil kajian menunjukkan bahwa aspek yang dominan untuk menetapkan ruang bebas dan jarak bebas minimum pada Saluran Udara Tegangan Tinggi / Tegangan Ekstra Tinggi adalah persepsi adanya pengaruh medan elektromagnetik dari saluran transmisi terhadap kesehatan masyarakat disekitarnya.

Dengan dasar persepsi medan elektromagnet tersebut, kemudian dihitung kuat medan listrik yang ditimbulkan oleh saluran udara HVDC. Ditambah dengan pertimbangan hasil penelitian dari dalam dan luar negeri, aspek lingkungan, kebiasaan dll, maka diusulkan bahwa kuat medan listrik maksimum ditepi ROW HVDC adalah 7,5 kV/m, sehingga ground clearance minimum 15 meter.



Penulis : Edy IskantoNo. Laporan : 01.LIT.2008Tanggal : 09 Juni 2008 Jumlah Halaman : 30

KAJI ULANG PEMBEBANAN TRAFO MINYAK Dengan kenaikan suhu 65 derajat C

Laporan ini menyampaikan hasil aplikasi perhitungan pembebanan transformator (trafo) yang mengacu kepada standar IEEE Std C57.91-1995 (R2004). Perhitungan ini menggunakan data lapangan yang ada di PLN P3B Jawa Bali, yaitu trafo no 4 GI Waru , 60 MVA, 150 kV/20 kV.

Data yang diperoleh dari GI Waru selama siklus 24 jam tsb menunjukkan bahwa trafo tersebut tidak pernah mengalami beban lebih di atas 1 pu. Sehingga secara teoritis (tanpa dihitung menggunakan metoda IEEE tersebut) umurnya akan normal yaitu 20 tahun. Bila dihitung dengan metoda tersebut maka akan diperoleh faktor penuaan ekivalen sebesar 0,0061 jam.

Hasil lain diperoleh bahwa nilai hotspot hasil perhitungan lebih tinggi dari nilai hasil pengukuran. Jika hal ini benar, maka seting relay perlu dipertimbangkan ulang, karena seting suhu yang selama ini pada nilai 95 oC trip sebenarnya mungkin sudah lebih dari nilai tersebut.

Sebagai acuan, dalam lampiran dari laporan ini juga disampaikan mengenai prosedur perhitungan umur trafo karena pembebanan lebih yang dibuat oleh IEEE Std C57.91-1995 (R2004). Dalam standar tsb dinyatakan bahwa umur trafo ditentukan oleh umur insulasinya, terutama kertas. Pada edisi IEEE sebelumnya, formula perhitungan yang digunakan untuk menghitung umur trafo dibuat berdasarkan tabel percobaan dan menggunakan kenaikan suhu hot-spot belitan diatas top-oil dari tangki serta berasumsi bahwa temperatur minyak di dalam saluran pipa pendingin (oil-duct) adalah sama dengan suhu top-oil pada tangki, selama terjadi pembebanan lebih. Riset terbaru yang menggunakan imbedded thermocouples dan detektor serat optik menunjukkan bahwa aliran fluida yang terjadi pada belitan selama terjadinya transien pemanasan dan pendinginan adalah suatu fenomena yang rumit untuk diuraikan dengan formula yang sederhana. Penyelidikan tersebut menunjukkan bahwa selama terjadi pembebanan lebih, temperatur minyak di saluran pipa pendingin dalam belitan naik dengan cepat dan melebihi temperatur top-oil dalam tangki. Penelitian dalam bidang ini sepertinya masih berkelanjutan pada waktu ini dan hasil riset dimasa datang memberikan kesempatan untuk merevisi panduan ini.


Penulis : Edy Iskanto, Satyagraha A. Kadir, Habibie No. Laporan : 04.LIT.2009 Tanggal : 19 Mei 2009 Jumlah Halaman : 84

KAJIAN METODE AUDIT ENERGI PADA GEDUNG PERKANTORAN DI LINGKUNGAN PT PLN (PERSERO)

Effisiensi dan optimalisasi pemakaian energi di gedung perkantoran perlu diukur dan dinilai dengan menggunakan metode penilaian efektivitas pemakaian energi yang seragam secara sederhana, mudah, murah, dan dapat digunakan secara luas dengan tinjauan aspek teknis dan non-teknis agar hasilnya dapat dievaluasi guna perbaikan selanjutnya

Tujuan spesifik dari kajian ini adalah memperoleh metode audit energi yang sederhana, mudah, murah namun tetap memenuhi persyaratan minimal dan dapat digunakan secara luas dengan melihat aspek teknis (jenis, spesifikasi, jumlah dan usia pakai peralatan) dan nonteknis (kesehatan, kenyamanan dan perilaku pengguna) serta pembuatan daftar alternatif pilihan rekomendasi perbaikan efisiensi pemakaian energi di gedung perkantoran akibat pengoperasian sistem tata udara, sistem tata cahaya, sistem transportasi vertikal (Lift) dan sistem peralatan kantor yang optimal serta implementasi budaya hemat energi. Keluaran dari metode ini berupa langkah-langkah pelaksanaan audit energi pada gedung perkantoran dengan urutan sebagai berikut :

  1. audit energi awal meliputi pengumpulan data energi bangunan gedung, dan perhitungan intensitas konsumsi energi (IKE) gedung;

  2. audit energi rinci meliputi penelitian konsumsi energi, audit energi sistem tata udara, audit energi sistem tata cahaya, audit energi sistem peralatan kantor, dan audit kesadaran hemat energi dari penghuni bangunan;

  3. identifikasi peluang hemat energi meliputi penilaian IKE terhadap target/acuan, dan identifikasi peluang hemat energi pada masing-masing sistem tersebut;

  4. peluang hemat energi meliputi penentuan urutan prioritas, analisa ekonomi peluang hemat energi terhadap urutan prioritas;

  5. format laporan dan beberapa contoh cara penghematan energi;

  6. rekomendasi peluang hemat energi terpilih.


Penulis : Ir. Tony Rochaswadi, Ir. Edy Iskanto, Ir. Priyono H.P., Zulkarnaen, R.M. HilmanNo. Laporan : 15.LIT.2008 Tanggal : 07-10-2008 Jumlah Halaman : 45

PERUBAHAN KARAKTERISTIK TRIP MCB TIPE C & CL TERHADAP ARUS HARMONISA

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji perubahan karakteristik trip MCB tipe C & CL terhadap arus harmonisa. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data mengenai pengaruh harmonisa arus terhadap karakteristik trip MCB. Penelitian dilakukan dengan pengujian di laboratorium terhadap MCB tipe C2, C4, C6 serta tipe CL2, CL4, CL6, dan penelitian diarahkan untuk membuat simulasi beban yang mempengaruhi karakteristik trip MCB akibat harmonisa arus

Hasil penelitian di laboratorium terhadap MCB tipe C2, C4, C6 dan CL2, CL4, CL6 menunjukkan bahwa :

  • Kurva karaktristik trip MCB baik tipe C maupun tipe CL pada kondisi arus terdistorsi harmonisa (non-sinusoidal) sesungguhnya tidak mengalami perubahan/pergeseran yang signifikan bila dibandingkan dengan karakteristik trip pada kondisi arus sinusoidal. Kalaupun terjadi pergeseran masih dalam batas persyaratan SPLN 108 : 1993 maupun IEC IEC 60898-1 (2003). Namun untuk mendapatkan karakteristik ini, pengukuran harus dilakukan dengan alat ukur amper meter jenis true-RMS. Bila pengukuran dilaksanakan dengan alat ukur amper meter jenis non-true RMS, akan diperoleh perbedaan karakteristik, sehingga seolah-olah kurva karakteristik MCB terpengaruh oleh harmonisa arus (padahal tidak).

  • Kesalahan pengukuran/penunjukan ampere meter non-True RMS semakin besar dengan bertambahnya distorsi harmonisa (THD), dari hasil pengukuran pada THD arus 20% kesalahan mencapai sekitar -6% (penunjukan ampere meter non-True lebih rendah), pada kondisi THD arus 40% kesalahan mencapai sekitar -16%, pada kondisi THD arus 60% kesalahan mencapai sekitar -27%, dan pada kondisi THD arus 80% kesalahan mencapai sekitar -30%.

  • Pada kondisi arus beban terdistorsi oleh harmonisa, pelaksanaan pengukuran arus, mutlak harus menggunakan ampere meter True RMS, karena bila menggunakan ampere meter non- True RMS akan terjadi kesalahan pengukuran yang signifikan, yang besarnya tergantung besarnya distorsi harmonisa arus (THDi).


Penulis : Tri Wahyudi, ST, MM, Habibie, ST, Suhadi, Ismu Priyanto,ST, Deddy. S., Siswadi,ST No. Laporan : 30.LIT.2008 Tanggal : 02-12-2008 Jumlah Halaman : 67

EVALUASI HASIL REKONDISI TRANSFORMATOR DISTRIBUSI

Dengan semakin banyaknya transformator distribusi yang rusak dan adanya pertimbangan efisiensi keuangan membuat rekondisi (perbaikan) transformator distribusi menjadi pilihan lain yang telah diterapkan oleh PLN. Beberapa keuntungan rekondisi transformator : biaya yang lebih murah, waktu kerja yang lebih singkat dan dapat memperoleh jaminan sebagaimana transformator baru. Namun berdasarkan pengalaman, transformator distribusi hasil rekondisi yang digunakan oleh PLN banyak mengalami kerusakan.

Laporan ini menyampaikan hasil penelitian tentang kinerja transformator distribusi hasil rekondisi. Metode yang digunakan mencakup kepada kajian literatur, pemeriksaan konstruksi dan pengujian laboratorium. Sebagai referensi untuk pengujian adalah SPLN 50:1997 dan SPLN D3.002-1:2007 sedangkan untuk evaluasi biaya dengan total owning cost .

Hasil pengujian dan pemeriksaan konstruksi yang dilakukan terhadap 11 sampel transformator rekondisi yang berasal dari 10 bengkel yang berbeda menunjukkan bahwa 9 transformator tidak memenuhi persyaratan standar. Evaluasi biaya dengan total owning cost dengan batasan umur pakai setelah rekondisi 10 tahun memperlihatkan transformator tidak layak direkondisi, kecuali untuk transformator 50 kVA dan 160 kVA dengan biaya rekondisi 30% dari harga baru.

Bila rekondisi transformator tetap ingin dilakukan karena alasan tertentu (misalnya karena keterbatasan dana pengadaan baru), maka perlu dilakukan perbaikan mutu, diantaranya dengan memperhatikan material pengganti yang digunakan, proses pengerjaan dan melakukan pengujian terhadap transformator hasil rekondisi.

Penulis : Haryo Lukito, ST., MT., Agung Fadilah, AMd No. Laporan : 24.LIT.2008 Tanggal : 19-11-2008 Jumlah Halaman : 44

INVESTIGASI KETIDAKSESUAIAN PENUNJUKAN DAYA SEMU PADA KWHMETER ELEKTRONIK Antara Nilai Tampilan Langsung VS Nilai Perhitungan

Laporan ini menyampaikan hasil investigasi mengenai adanya ketidaksesuaian antara nilai daya semu yang ditampilkan langsung oleh kWh-meter terhadap nilai daya semu yang diperoleh dari perhitungan menggunakan data daya nyata (watt) dan daya reaktif (VAr) yang juga ditampilkan oleh kWh-meter.

Investigasi dilaksanakan melalui kajian literatur, perhitungan secara simulasi untuk berbagai kondisi gelombang arus dan beban, dan juga dilakukan percobaan laboratorium. Adapun tujuan penelitian adalah untuk mengetahui prinsip kerja pengukuran dari kWh-meter elektronik, mengetahui penyebab dari ketidaksesuaian pembacaan, dan menentukan nilai penunjukan daya semu yang paling mendekati kebenaran. Ruang lingkup penelitian dibatasi kepada kWh-meter elektronik tiga fase, karena pada saat ini kWh-meter yang mempunyai sajian lengkap (kWh, watt, VAr, volt, amper, dll) umumnya jenis tiga fase.

Pada kondisi tegangan mempunyai bentuk gelombang sinusoida murni tanpa harmonisa, sedangkan arus mengandung harmonisa, maka selain daya nyata beban (P), daya reaktif beban (Q), dan daya semu beban (Sb = P + jQ) muncul daya reaktif lain, yaitu daya reaktif harmonik Qh, yaitu daya reaktif akibat adanya arus armonisa. Daya reaktif Qh akan menghasilkan daya semu catu Sc, yaitu daya semu yang dicatu oleh sumber. Nilai Sc yang ditampilkan langsung oleh kWh-meter ini lebih besar dari nilai Sb. Berkembang dari teori lama, vektor-vektor daya ini mempunyai hubungan dalam bangun tiga dimensi.

Dengan demikian ketidaksesuaian antara nilai daya semu yang ditampilkan langsung oleh kWhmeter terhadap nilai daya semu yang diperoleh dari perhitungan menggunakan data daya nyata (watt) dan daya reaktif (VAr) yang juga ditampilkan oleh kWh-meter disebabkan oleh adanya polusi harmonisa di dalam arus yang mengalir. Jadi, ketidaksesuaian tersebut bukan merupakan kesalahan meter, melainkan perwujudan alami dari sifat fisis listrik yang mengandung harmonisa.

Sebagai acuan dalam menentukan nilai daya semu mana yang lebih tepat ditinjau dari sisi kapasitas saluran dan pembangkitan, maka daya semu catu Sc lebih tepat dibandingkan dengan nilai daya semu beban Sb , karena Sc yang lebih besar dari Sb benar-benar dirasakan oleh saluran maupun pembangkitan.

Penulis: Achmad Syerif H., ST., Ir. Pranyoto, Imam Ahmadi ST. MEE. No. Laporan: 20.LIT.2009 Tanggal:30-10-2009 Jml. Halaman: 37

INVESTIGASI SEMBURAN BUSUR LISTRIK PADA TRANSFORMATOR CSP

Transformator CSP telah dilengkapi dengan paket proteksi yang terintegrasi, termasuk kemampuan mengisolasi diri dari sistem bila mengalami kerusakan. Walaupun demikian, kerja dari sistem pengaman tidak selalu mulus, bahkan dilaporkan telah terjadi semburan busur listrik yang menyertai kerusakan beberapa transformator.

Laporan ini membahas penyebab timbulnya semburan busur listrik pada transformator CSP desain SPLN 95 : 1994 dan sebelumnya, serta aspek konstruksi dan komponen pengaman yang terkait dengan aktifitas busur listrik. Penyebab timbulnya busur listrik dikaji melalui studi literatur, sedangkan pemeriksaan laboratorium dilakukan pada sampel transformator rusak, bekas pakai, dan rekondisi, untuk melihat potensi berulang pada transformator eksisting.

Semburan busur listrik disebabkan oleh dua faktor: terjadi hubung-singkat dengannimpedansi rendah di dalam tangki dan ketahanan mekanikal sistem tangki yang tidak memadai. Peluang timbulnya semburan dipengaruhi oleh kondisi kawat antara busing dan pelebur primer, kinerja pelebur primer, kondisi dielektrik transformator, level hubung-singkat pada lokasi transformator terpasang, dan operasi re-enerjais. Upaya pencegahan terhadap semburan busur listrik yang terjadi pada transformator CSP memerlukan improvement pada desain ketahanan sistem tangki dan persyaratan komponen pengaman yang belum ditetapkan oleh SPLN 95 : 1994. Terhadap transformator eksisting yang berpotensi mengalami gangguan ini, disarankan menggunakan pengaman tambahan yang dipasang di luar transformator.


Penulis : Satyagraha A. Kadir, ST, Agung Fadillah, Febi Hadi No. Laporan : 07.LIT.2009 Tanggal : 18-06-2009 Jml. Halaman : 35

Analisis Kinerja Proteksi Gangguan Tanah Belitan Tersier Delta Inter Bus Transformer 500kV/150kV

IBT 500 kV / 150 kV, 500 MVA adalah transformator dengan kapasitas paling besar di sistem tenaga listrik PLN saat ini. Umumnya IBT 500 kV / 150 kV, 500 MVA terdiri dari 3 unit Trafo 1 fasa dengan belitan tersier dihubungkan delta.

Dalam kajian ini telah dilakukan analisis terhadap Proteksi Gangguan tanah Belitan Tersier IBT 500kV/150kV yang dibumikan dan yang tidak dibumikan. Telah pula dikaji perbandingan alternatif relai proteksi gangguan tanah untuk belitan tersier yang tidak dibumikan.

Hasil kajian ini menunjukkan bahwa relai-relai yang terpasang pada sisi 500 kV dan sisi 150 kV tidak dapat menjadi proteksi utama maupun proteksi cadangan untuk belitan tersier IBT. Oleh karena itu, belitan tersier delta perlu dilengkapi dengan relai proteksi tersendiri.

Penulis : Ir. Riam A. Wibowo, Ir. Armaini, Ir. Suwarno, MT No. Laporan : 16.LIT.2009 Tanggal : 30-11-2009 Jumlah Halaman : 38

Revitalisasi Hot Gas Path Component (HGPC) PLTG dengan Teknologi Heat Treatment

PLTG dapat beroperasi dengan sangat cepat sehingga sering digunakan sebagai pusat pembangkit untuk beban puncak (peak load). PLTG adalah mesin pembangkit tenaga yang beroperasi pada temperatur dan putaran tinggi, maka didalam PLTG terdapat pengelompokan komponen antara lain kelompok Hot Gas Path Component (HGPC) yakni kelompok komponen yang dilalui gas panas.

Hot Gas Path Component Gas Turbine mempunyai umur pakai (life time) tertentu, namun ada juga yang mengalami penuaan dini (aging accelerated) sehingga relatif banyak komponen bekas pakai yang disimpan di gudang pembangkitan. Untuk tindak lanjut agar komponen tersebut dapat difungsikan kembali perlu dilakukan penelitian yakni rekristalisasi material dengan teknologi Heat treatment dan pengendalian Time, Temperature, dan Transformation (TTT).

Parameter yang digunakan dalam penelitian ini yaitu lamanya perlakuan heat treatment. Pengujian-pengujian yang dilakukan untuk membuktikan hasil heat treatment yakni pengujian metalografi, dan pengujian mekanik.

Proses Heat treatment dapat mengembalikan struktur mikro material HGPC yang sudah dioperasikan sehingga, hampir menyerupai kondisi material baru. Struktur mikro material tersebutmengalami perbaikan ditandai dengan hilangnya void dibatas butir, pendistribusian karbida secara baik, dan butir mengalami pertumbuhan.

Hasil pengujian mekanis yakni pengujian tarik pada material yang telah diberi perlakuan Heat treatment menunjukan bahwa perlakuan Heat treatment dapat mengembalikan kekuatan mekanik material HGPC yang sudah dioperasikan sehingga, hampir menyerupai kondisi material baru, yakni meningkatkan kembali nilai UTS dan % elongasi. Proses Heat treatment selama 60 menit menghasilkan sifat mekanis yang terbaik.

Dari hasil pengujian disimpulkan bahwa material HGPC dapat digunakan kembali setelah melalui proses Heat treatment.

Penulis : Ir. Sugiarto, MT, Ir. Putu Wirasangka, MT, Yusuf Rasyid, ST, Ariyana Dwiputra, ST

No. Laporan : 27. LIT. 2010 Tanggal : 21 Desember 2010 Jml. Halaman : 34

Kajian Heat Rate dan Efisiensi Pembangkit Sistem Jawa Bali

Sesuai surat penugasan Direktur Operasi Jawa Bali Nomor 00047/122/DITJB/2009 perihal Pembayaran Komponen C - Penggantian Biaya Bahan Bakar Transaksi Pembangkitan, dimana mulai Januari 2009 PT PLN P3B Jawa Bali telah melakukan merrit-order pembebanan pembangkit sistem Jawa-Madura-Bali berdasarkan Heat Rate yang ditindaklanjuti dengan surat Nomor 01836/122/DITOPJB/2010 tentang Pengujian Heat Rate dan Efisiensi Pembangkit Sistem Jawa Bali, maka PT. PLN (Persero) Pusat Penelitian dan Pengembangan Ketenagalistrikan ditugaskan untuk melakukan penelitian heat rate dan efisiensi pembangkit pada sistem Jawa Bali.

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji performa pembangkit thermal serta melihat energy loss pembangkit sistem Jawa Bali. Pada tahap satu ini, penelitian dilakukan pada PLTU Tanjung Jati B Unit 2 berbahan bakar batubara dengan kapasitas 2 x 710 MW. Metodologi yang digunakan untuk melakukan penelitian ini terdiri dari kajian literatur, survey lapangan, verifikasi peralatan ukur, pengambilan data Performace Test, dan analisa data. Pada pengujian ini batubara yang digunakan berbeda beda nilai kalornya dengan nilai kalor batubara tertinggi sebesar 6,095 kkal/kg (di beban 60%) dan terendah 5,516 kkal/kg (di beban 100%).

Dari hasil perhitungan didapatkan bahwa plant heat rate (PHR) tercapai dengan nilai tertinggi sebesar 2,471.22 kkal/kWh pada beban 60 % dan nilai terendah sebesar 2,385.98 kkal/kWh pada beban 100 %. Turunnya nilai PHR terjadi karena kontribusi dari turbine heat rate (THR) yang relatif lebih besar (3,9%) meskipun terjadi penurunan relatif efisiensi boiler 2,5%.

Meskipun demikian perlu dilakukan pengujian kembali pada beban yang sama dan batubara bernilai kalor yang sama, untuk memperoleh pengaruh nilai kalor batubara terhadap plant heat rate pembangkit.

Penulis : Hamdan H. A, Tiva Winahyu D. H, Nur Cahyo

No. Laporan : 21. LIT. 2010 Tanggal : 30 November 2010 Jml. Halaman : 35

Kajian Hard Coating Pada Material Water Wall Tube

PLTU Tarahan merupakan Pusat Listrik Tenaga Uap yang pertama kali menggunakan teknologi Boiler Circulating Fluidized Bed (CFB). Boiler merupakan peralatan yang sangat penting pada Pusat Listrik Tenaga Uap karena boiler berfungsi untuk mengubah energi kimia bahan bakar menjadi energi panas atau thermal. Pada saat pelaksanaan uji keandalan unit selama 30 hari secara terus-menerus, pada hari ke 26, telah terjadi kegagalan pada sub system boiler CFB berupa bocornya waterwall tube. Kebocoran terjadi akibat dari keausan erosi oleh material bed, yang terdiri dari pasir kuarsa, batu bara, limestone dan udara yang berada di ruang bakar dengan temperatur sekitar 850o C, sehingga tube mengalami penipisan dan sampai ketebalan kritis tidak mampu lagi memikul beban tekanan kerja media air/uap dari dalam tube.

Salah satu metoda untuk mengatasi kebocoran yang disebabkan oleh erosi dan penipisan tersebut adalah dengan teknik hard coating yaitu memberikan lapisan keras pada permukaan material dasar sehingga diharapkan waktu tejadi penipisan bisa diperpanjang. Adapun material coating yang dipilih adalah Cromium (Cr).

Pada penelitian ini dilakukan eksperimen dengan beberapa parameter yang digunakan sehingga diharapkan akan diperoleh hasil terbaik. Parameter yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sudut penembakan, dan tebal coating. Sebelum dilakukan proses coating, pada sampel dilakukan metal blasting yakni proses pembersihan pada tube untuk menghilangkan kerak-kerak yang menempel. Selanjutnya dilakukan proses bonding yakni proses perekatan antara material dasar dan material coating yang dilanjutkan dengan penembakan material coating. Sudut penembakan coating yang digunakan adalah 200 dan 900 sedangkan tebal coating yang diharapkan adalah 500 µm, 600 µm, dan 700 µm.

Pengujian-pengujian yang dilakukan untuk membuktikan hasil coating yakni pengujian metalografi, kekerasan, keausan, kekasaran. Hasil pengujian metalografi pada material dasar menunjukan fasa ferit-perlit dan terdapat porositas permukaan hasil metal blasting, pada material hasil bonding menunjukan bahwa pada umumnya adanya porositas antara base material dan lapisan bonding, dan pada material hasil coating pada umumnya menunjukan lapisan coating tersebar merata dan terdapat porositas. Hasil uji kekerasan menunjukan bahwa dengan dilakukan teknik coating dapat meningkatkan kekerasan permukaan yang mencapai tiga kali lebih besar dari nilai kekerasan base material yakni kekerasan awal material adalah 131 HV sedangkan kekerasan material hasil coating adalah + 476 HV.

Dari parameter pengujian kekerasan, kekasaran dan keausan dapat disarankan bahwa proses coating material pada sudut tembak coating 20˚ dengan ketebalan 600 µm akan memiliki umur tube yang lebih lama dan memiliki tingkat ketahanan erosi paling baik pada kondisi operasi yang sama karena nilai kekerasan, kekasaran dan laju keausan yang paling baik.

Penulis : Ir. Sugiarto, MT, Ir. Wisana Prabu, Ir. Putu Wirasangka, MT, Ariyana Dwiputra, ST.

No. Laporan : 20. LIT. 2010 Tanggal : 30 November 2010 Jml. Halaman : 66

Kajian Pemanfaatan Gas Metana Batubara (Coal Bed Methane/CBM) Sebagai Bahan Bakar Satuan Pembangkit Diesel

Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional menekankan bauran energi yang direncanakan dari tahun 2006 untuk batu bara 16% menjadi 33% pada tahun 2025, mempunyai konsekuensi bahwa penggunaan batu bara harus ditingkatkan sebagai sumber energi primer antara lain gasifikasi batu bara dan pemanfaatan Coal Bed Methane (CBM). Konversi dari BBM ke bahan bakar gas (gas alam) telah dilaksanakan pada beberapa Satuan Pembangkit Diesel (SPD) yang dimiliki PLN diantaranya PLTD Payo Selincah 6 x 5.218 kW. Sementara itu karakteristik CBM banyak kemiripan dengan gas alam pada umumnya. Oleh sebab itu pada penelitian ini akan dilaksanakan kajian secara teoritis tentang kemungkinan pemanfaatan CBM sebagai bahan bakar Satuan Pembangkit Disel (SPD).

Pada penelitian ini kajian hanya dilaksanakan secara teoritis dengan mempelajari penggunaan bahan bakar (gas alam) pada pembangkit existing. Dari spesifikasi gas CBM dicoba dikorelasikan dengan spesifikasi gas alam untuk diterapkan pada pembangkit diesel (SPD).

Secara teoritis gas methana batubara dapat digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel mengingat adanya kemiripan karakteristik antara gas methana batubara dan gas alam. Dibandingkan dengan gas alam, gas methana batubara memiliki keunggulan sifat thermodinamika seperti methane number dan nilai kalor yang lebih tinggi dan kestabilan pembakaran. Pemakaian gas metana batubara pada mesin diesel membutuhkan modifikasi dan penambahan peralatan seperti sistem dual fuel HSD-Gas alam antara lain penggantian speed governer dan pemasangan gas valve (SOGAV), gas manifold, explosion relief valve, electromagnetic gas admission control, electronic speed controler, engine gas train. Untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap tentang kajian pemanfaatan gas methana batubara sebagai bahan bakar mesin diesel perlu dilaksanakan kajian lebih lanjut meliputi : simulasi pembakaran dengan bantuan perangkat lunak Computational Fluid Dynamics dan pengujian langsung menggunakan bahan bakar gas methana batubara pada mesin diesel skala kecil.

Penulis : Ir. Putu Wirasangka, MT, Ir. Agus Yogianto, MT, Ir. S. Budi Mulyana, Almas Apriliana

No. Laporan : 19. LIT. 2010 Tanggal : 30 November 2010 Jml. Halaman : 25

Kajian Kualitas Spare Part Bucket Non OEM Pembangkit Listrik Tenaga Gas

Bucket turbin gas mempunyai kemampuan menahan temperatur sampai 1500°C. Material yang umum dipakai untuk turbin gas bucket adalah: nickel-base superalloys atau cobalt based super alloy. Material tersebut tahan pada temperatur tinggi diatas 1000 °C (bahkan hingga 1450 °C ), dan sangat dipengaruhi oleh kondisi coating, cooling dan sealing. Dari beberapa unit pembangkit turbin gas yang berada di PLN pada umumnya biaya pemeliharaan berkisar 10 % dari biaya operasi. Biaya ini akan semakin meningkat seiring dengan kenaikan umur pembangkit. Salah satu issue penting dalam pemeliharaan adalah mahalnya biaya spare part Original Equipment Manufacture (OEM) khusus untuk material bucket. Adapun alat yang dipakai untuk mengetahui strukturmikro adalah Replika tester. Dari hasil kajian pengujian secara strukturmikro terhadap bucket turbin gas di tiga lokasi unit pembangkit PLN setelah dilakukan evaluasi dan analisa berdasarkan standarERA Technology dan literatur dapat disimpulkan bahwa sampel bucket turbin NON OEM kondisi baru mesin Alsthom PLTG Paya Pasir hasil morpologi strukturmikro mengindikasikan adanya creep void pada batas butir, kemungkinan kondisi ini mencerminkan bahwa material tersebut sudah pernah digunakan. Pada sampel bucket turbin OEM kondisi bekas mesin Siemens PLTG Belawan, hasil morpologi strukturmikro mengindikasikan adanya carbide island, kondisi tersebut mencerminkan bahwa ma terial bucket telah digunakan dalam waktu yang relatif lama. Pada sample bucket rekondisi turbin OEM kondisi bekas mesin Alsthom PLTG Tello, hasil morpologi strukturmikro mengindikasikan adanya carbide island dan gama prame. Kondisi ini mencerminkan bahwa material bucket telah digunakan dalam waktu lama dan pernah mengalami over heating. Sebelum penggunaan bucket Non OEM, OEM dan bucket hasil rekondisi sebaiknya dilakukan quality control secara Non Destructive Test (NDT) selanjutnya interval waktu inspeksi didalam pemeliharaan agar diperhatikan.

Penulis : S. Budi Mulyana, ST, Ir. Sugiarto, MT, Harianto, ST, Almas Apriliana

No. Laporan : 18. LIT. 2010 Tanggal : 30 November 2010 Jml. Halaman : 28

Pengenalan listrik sejak dini di lingkungan SD, sebagai sarana untuk menghemat listrik melalui pembentukan klub peduli energi kunang- kunang junior

Dalam rangka menunjang gerakan hemat listrik, maka diperlukan sosialisasi kepada berbagai pihak. Salah satu pihak yang perlu disosialisasikan mengenai gerakan hemat energi listrik adalah anak SD dengan harapan agar anak SD dapat mengerti tentang gerakan hemat listrik dan dapat mempraktekkan dalam kegiatan sehari-hari. Namun hingga saat ini belum ada bahan panduan bagi anak SD maupun sekolah dalam melaksanakan kegiatan hemat listrik. Untuk itu dibuatkan indikator dalam bentuk form untuk memudahkan Anak SD dalam pelaksanaan patroli energi.

Langkah-langkah dalam pembuatan indikator hingga implementasi di lingkungan sekolah adalah sebagai berikut: mengadakan group discusion untuk menentukan data-data yang diperlukan, menetapkan target sekolah yang menjadi obyek penelitian, membuat pertanyaan untuk tahap sosialisasi serta form patroli energi, perilaku di rumah serta rekening listrik bulanan, melakukan survey ke sekolah, melaksanakan sosialisasi tentang KKJ (Kunang-kunang Junior), melakukan pengumpulan data, pengolahan data, analisa data, mengambil kesimpulan serta membuat saran.

Berdasarkan hasil analisa maka dapat disimpulkan bahwa :

Sosialisasi Gerakan Hemat Listrik dan Pembentukan Klub Peduli Energi: Kunang-Kunang, baik di tingkat pusat, regional maupun di Sekolah-Sekolah Dasar di lingkungan kerja operasional PLN Distribusi/Wilayah perlu dikembangkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya hemat energi. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil analisa dimana SD yang telah mendapatkan sosialisasi, tingkat kesadaran siswa dalam melaksanakan kegiatan hemat listrik di rumah lebih tinggi dibandingkan yang belum mendapatkan sosialisasi.

Orang tua, guru dan tim KKJ sangat berperan dalam menyampaikan pentingnya gerakan hemat listrik, selain itu film-film animasi dapat menjadi pendukung dalam penyampaian gerakan hemat listrik di lingkungan.

Form patroli energi dan form prilaku di rumah, dapat dipakai menjadi alat yang bisa digunakan oleh siswa SD dalam melaksanakan kegiatan hemat energi. Dan untuk mengukur apakah kegiatan patroli energi tersebut cukup efektif, maka ditambah form rekening listrik dan penambahan alat listrik sebagai kontrol keberhasilan kegiatan KKJ.

Dengan adanya hasil-hasil di atas, diharapkan agar pembentukan KKJ sebagai wadah bagi siswa dalam mempraktekkan kegiatan hemat listrik terus dikembangkan, sehingga kegiatan hemat listrik tetap terus berlangsung dan terbina sejak dini dalam masyarakat.

Penulis : Gunartati Budhi Purwandari, Prasada, ST, Mulyawati

No. Laporan : 13. LIT. 2010 Tanggal : 26 Juli 2010 Jml. Halaman : 35

Kajian opini publik mengenai subsidi listrik yang tepat sasaran dan tepat guna

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji isi materi Karya Tulis Ketenagalistrikan dari masyarakat, mendapat masukan berupa ide-ide dari masyarakat berkaitan dengan subsidi listrik untuk kepentingan perusahaan, serta menghasilkan rekomendasi bagi manajemen berkaitan dengan subsidi listrik.

Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan, peneliti mengkaji: Artikel Lomba Karya Tulis Ketenagalistrikan (LKT), pemberitaan di media online, hasil diskusi dan wawancara.

Hasil penelitian secara ringkas adalah sebagai berikut :

PLN memiliki dua sisi peran yang berorientasi profit dan sosial, persepsi terhadap dua sisi itu berpengaruh pada kinerja PLN;

Banyak upaya yang telah dilakukan PLN, namun penyediaan listrik belum merata di seluruh wilayah, karena itu diperlukan pembangunan pembangkit tenaga listrik yang dilakukan oleh swasta terutama di luar Pulau Jawa, dan juga diperlukan inovasi pembangkit listrik energi alternatif;

Kebijakan pemerintah terhadap TDL pada dasarnya adalah kebijakan yang politis;

PLN diharapkan bisa mensosialisasikan perilaku hemat listrik melalui media massa dan pola penggunaan listrik oleh masyarakat harus diubah;

Hasil pengamatan media online antara bulan November 2009 sampai Maret 2010 menunjukkan media massa menekankan pemberitaan seputar isu pemadaman listrik dan kenaikan TDL;

Hasil penelitian Focus Group Discussion (FGD) adalah citra PLN yang kurang baik di mata masyarakat disebabkan oleh pemadaman listrik dan pelayanan yang kurang;

PLN diharapkan dapat meningkatkan penyediaan dan pelayanan listrik melalui swastanisasi dan penggunaan energi alternatif sebagai upaya mengurangi besarnya biaya penyediaan listrik.

Penulis : Gunartati Budhi Purwandari, Gong Matua Hasibuan, Harsutowo, Nuraini Aunidya C.

No. Laporan : 11. LIT. 2010 Tanggal : 19 Juli 2010 Jml. Halaman : 87

Perancangan dan instalasi sistim monitoring pembangkit listrk kombinasi energi terbarukan berbasis hidrogen

Pembangkit listrik kombinasi turbin angin, sel surya dan fuell cell merupakan suatu alternatif jenis pembangkit hybrid yang dikembangkan oleh Tim Pusat Penelitian Fisika LIPI. Fuell cell dengan kapasitas 1 kW yang dikombinasi dengan turbin angin 5 kW dan sel surya 1 kW dirancang untuk menyuplai daya listrik ke salah satu desa tertinggal di Propinsi Banten, yaitu di desa Telonjaya, Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak, Banten.

Sehubungan dengan operasi instalasi tersebut, perlu dilakukan pengamatan terhadap kinerja hybrid plant sebagai satu sistem pembangkit serta masing-masing bagian pembangkit. Oleh sebab itu diperlukan instalasi monitoring pembangkit listrik kombinasi dari energi terbarukan tersebut. Setelah melalui perancangan sistem monitoring yang laporannya telah diterbitkan dengan Laporan Penelitian No.40.LIT.2008, maka selanjutnya direalisasikan instalasi sistem monitoring tersebut.

Dari hasil penelitian diperoleh sebuah instalasi monitoring hybrid plant yang dapat menampilkan parameter operasi pada setiap bagian sistem hibrid mulai dari turbin angin, sel surya, fuel cell, elektrolisis plant dan inverter pada tampilan logger atau dapat juga diketahui secara remote memakai komunikasi GSM melalui ponsel.

Kecepatan angin tertinggi yang pernah terekam yaitu pada 10 m/s terjadi pada bulan September 2009 dan pada bulan tersebut kecepatan anginnya cukup stabil pada kisaran 4 - 8 m/s. Pada bulan Desember 2009, kecepatan angin mulai turun. Jika dilihat dari kondisi yang sangat berfluktuatif dan lokasi PLTB yang di pinggir pantai, bisa disimpulkan bahwa PLTB di lokasi ini tidak bisa dijadikan sebagai pembangkit base load walaupun lokasinya sudah dipinggir pantai (karena sifat angin yang intermittent didaerah tropis).

Untuk PLTS terlihat bahwa titik tertinggi daya yang pernah di hasilkan oleh PLTS adalah pada bulan Desember 2009 (+ 600 Watt) dan titik terendah terjadi pada bulan Oktober 2009 (+ 25 Watt). Sedangkan pada bulan Agustus 2009 dayanya cukup stabil (+ 350 Watt) akan tetapi untuk bulan - bulan lainnya berfluktuatif.

Sedangkan untuk arah angin yang terjadi selama bulan Juli - Desember 2009 rata - rata menuju ke Tenggara (1200 - 1500). Bila dilihat dari posisi pembangkit maka angin lebih banyak bergerak dari darat menuju laut. Sedangkan pada bulan November dan Desember 2009, angin lebih banyak bergerak menuju selatan (1800) dan barat daya (2100 - 2400).

Pembangkit ini merupakan sistem pembangkit untuk penelitian dan bukan untuk komersial maka ujicoba terhadap pembangkit ini akan banyak dilakukan dan ini akan mempengaruhi data yang hendak diinginkan. Oleh sebab itu untuk mengetahui kinerja sistim monitoring ini tidak bisa dilakukan hanya dalam waktu singkat, paling tidak minimal 6 - 12 bulan masa monitoring tanpa adanya gangguan/perbaikan pada sistem pembangkit.

Penulis : Harry Indrawan, ST, Msc, Ir. Agus Yogianto, MT, Herry Nazir, BE

No. Laporan : 10. LIT. 2010 Tanggal : 28 Juni 2010 Jml. Halaman : 24

Pemakaian Electric Fuel Treatment (EFT) pada mesin diesel pembangkit Tahap 2

Unsur biaya terbesar dalam pengoperasian Pusat Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di PT PLN (Persero), adalah biaya bahan bakar minyak (BBM). Biaya bahan bakar semakin bertambah karena harga BBM yang sangat tinggi seperti sekarang ini, dan mesin mengalami penurunan daya mampu atau semakin boros. Salah satu kebijakan strategis PLN pada tahun 2006 adalah mengurangi biaya pemakaian BBM. Untuk itu segala kemungkinan penggunaan alat penghemat BBM untuk PLTD, perlu dilakukan.

PT PLN (Persero) Puslitbang Ketenagalistrikan, PT PLN (Persero) Pusat, dan PT PLN (Persero) Wilayah NTT, bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Unit Pengembangan Teknik - Balai Pengem-bangan Instrumentasi (UPT BPI - LIPI) Bandung, telah melakukan penelitian tentang penggunaan alat penghemat BBM jenis Electric Fuel Treatment (EFT) Tahap 2 di PLTD Atambua PLN Wilayah NTT, sebagai kelanjutan dari uji coba Tahap 1 di PLTD Koba, PLN Wilayah Bangka Belitung.

Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah membandingkan konsumsi BBM saat dioperasikan pada beban 50%, 75% dan 100% pada satu unit mesin diesel yang sama, tanpa menggunakan EFT dan dengan menggunakan EFT, dalam kondisi operasi dengan disertai lama pengamatan (waktu) yang sama.

Hasil pengukuran SFC yang dilaksanakan di PLTD Atambua ini, yakni pada beban-beban : 200 kW (100% daya mampu), untuk pemakaian EFT tipe A dan tipe B terjadi kenaikan SFC sebesar 1,5%, sedangkan pada beban 150 kW (75%) dan 100 kW (50 %), terjadi penurunan SFC hingga 2,5% dan 3,6%, kecuali untuk EFT tipe A pada beban 50% terjadi kenaikan 4,9%. Hasil ini belum memenuhi kriteria karena belum mencapai angka yang telah disepakati yakni rata-rata penurunan konsumsi BBM hingga mencapai minimal 5%.

Penulis : Herry Nazir, BE, M. Agus Warsyun, ST, Sugiharto D, Satriyo Hadi M,ST

No. Laporan : 03. LIT. 2010 Tanggal : 15 April 2010 Jml. Halaman : 13

Studi Kelayakan PLTM Tarusan, Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat

Lingkup studi kelayakan PLTM Tarusan adalah mengevaluasi kelayakan PLTM di Sungai Tarusan, Kecamatan Koto XI Tarusan, Pesisir Selatan Sumbarditinjau dari aspek Teknik, Ekonomi dan pertimbangan lingkungan.

Untuk mendapatkan gambaran tingkat kelayakan PLTM tersebut dilakukan analisa ekonomi dan finansial dimana sebagai dasar perhitungan adalah rencana anggaran biaya (RAB) PLTM Tarusan. Perhitungan RAB didasarkan pada desain dasar & rencana scheme PLTM Tarusan dan ditunjang oleh data dasar yaitu : data/analisis Hidrologi dan data Geologi/Geoteknik.

Investigasi yang telah dilakukan dilokasi penyelidikan adalah, pengumpulan data hidrologi mutakhir untuk keperluan analisa hidrologi, pemetaan topografi, Investigasi geoteknik, pengumpulan data kelistrikan, sosial-lingkungan dan aspek terkait lainnya. Desain dasar (basic design) dipakai sebagai acuan perhitungan volume pekerjaan yang dengan mengalikan perhitungan harga satuan pekerjaan selanjutnya digunakan untuk penyusunan RAB.

Biaya investasi PLTM Tarusan (Pekerjaan Sipil dan Elektro Mekanik) adalah :

Alternatif-1 dengan debit 8 m3/detik adalah sebesar Rp. 76,339,070,000.00,- sedangkan Alternatif-2 dengan debit 5 m3/detik adalah sebesar Rp.66,456,100,000.00 termasuk pajak, pekerjaan Jaringan, pembebasan tanah, biaya Jasa Perencanaan, Pengawasan, Manajemen dll

Data Hasil study kelayakan PLTM Tarusan pada kondisi base case adalah sebagai berikut :

PLTM Debit Head Daya IRR Pengembalian Tarif

(m3/s) (m) (kW) Project (%) (Th) (Rp/kWh)


Tarusan 5 44,7 2.000 18,55 7 th 0 bl 750

Tarusan 8 44,7 3.200 12,81 9 th 4 bl 750

Direkomendasikan untuk dilanjutkan ketahap desain detail dan disarankan agar memasang pengamatan muka air sungai dan mencatat selama minimum 6 bulan untuk keperluan evaluasi dari hasil analisis Hidrologi.

Penulis : Ir. Priyono Maskur, Dipl. HE, Ir. Donny Darmayanto, Ir. Hanggoro, SE, Ir. Tonny Sarief, MT, Herry Nazir, BE, Anwar Rusmana, ST

No. Laporan : 02. LIT. 2010 Tanggal : 17 Maret 2010 Jml Halaman : 183

Pedoman Penerapan Scheme Logic untuk relai numerik

Perubahan relai proteksi dari sistem analog ke sistem digital, menyebabkan cara penyetelan pada relai mengalami perubahan. Setelan dasar (default setting) skema logika (logic scheme) pada relai jarak numerik pada saat dibeli berbeda-beda, ada yang telah dibuat oleh pabrikan dan ada juga yang belum. Untuk relai jarak numerik yang skema logikanya telah dibuat oleh pabrikan, penyetelan relai di lapangan tidak banyak menimbulkan kesulitan. Sedangkan untuk relai jarak numerik yang skema logikanya belum dibuat oleh pabrikan, penyetelan di lapangan sering menimbulkan permasalahan, hal ini disebabkan oleh tingkat pemahaman terhadap sistem proteksi yang berbeda.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menyeragamkan skema logika relai jarak numerik di jaringan 150 kV PLN. Metoda penelitian dilakukan dengan dua cara, yaitu studi literatur dan studi lapangan. Untuk studi lapangan dipilih beberapa gardu induk 150 kV yang menggunakan relai jarak numerik (digital), yang terpasang di wilayah kerja PLN P3BJB Region Jateng & DIY, Region Jabar, dan Region Jakarta & Banten.
Hasil studi penerapan skema logika relai jarak numerik ditampilkan dalam bentuk tabel yang berisi fungsi elemen utama, fungsi elemen tambahan, dan fungsi elemen yang tidak boleh diaktifkan.

Pedoman Penerapan Skema Logika ini diharapkan dapat digunakan sebagai standar dalam penerapan skema logika relai jarak numerik sebagai proteksi penghantar 150 kV, dimasa yang akan datang. 

Penulis       : Ir. Armaini,   Didik F. Dahlan, ST, Msc,   Handy Wihartady, ST, Msc,   Eko  Aptono, ST,   Antonius Budiono,    Joko Hartono, ST
No. Laporan  : 26. LIT. 2010    Tanggal : 20 Desember 2010      Jml. Halaman : 93